Harusnya kali ini waktu senja perpisahan
kita di tempat biasa. Sayang ia tak datang, beralih dengan deras hujan.
Katamu, hujan ini begitu jahat, menghapus senja yang harus kita nikmati
berdua. Aku diam, bersandar padamu. Memandang haru.
“Kita masih ada waktu, sebelum jarak mengelabui.”
“Tak banyak. Aku menyesalinya.”
“Kita layak mendapatkan kehidupan di luar sana. Ingat? Aku, kamu dan sebuah hubungan yang begitu kita nikmati berdua.”
“Seandainya, semua tak berjalan dengan sangat indah. Siapa yang harus aku salahkan?”
“Tak ada.”
“Takdir?”
“Tidak.”
“Aku?”
“Bukan. Bagaimana kalo kita salahkan obrolan yang sedang terjadi sekarang.”
“Aku akan merindu waktu senja bersamamu. Tidak dengan hujan yang menghapus semua seperti ini.”
“Tak apa. Aku juga membencinya. Tapi tak selalu menyalahkannya. Malah ingin mengenangnya, sebagai kamu.”
“Lucu?”
“Sudahlah. Nikmati sekarang, hujan yang akan kamu ingat sebagai pelukan perpisahan.”
“Ya.. Kamu tak mencintaiku. Aku tahu.”
“Kamu terlalu.. Hmm.. Sedikit sok tahu. Sekarang, mulailah mencintai hujan, selain senja yang selalu kita nikmati berdua”
Aku tak mau tahu, batinku. Aku akan pergi dan kamu berpura-pura semua
akan baik-baik saja? Gila. Bagaimana jika kita tak akan ada lagi? Hanya
ada aku dan dia, atau kamu dan wanita itu. Entahlah. Aku memang harus
pergi untuk sekarang.
Kamu tahu, sedikit banyak kamu sudah menjadi senyum, tangis dan
harapan. Aku terlalu teliti, membaca pesanmu di kemasan susu kotakku.
Mungkin, benar katamu.
“Aku mencintaimu terlalu dalam. Kadang kita harus menyerah sekarang, sebelum nanti harapan begitu hebat.” - Kamu.
Sayangku, aku mencintaimu, juga senja dan kelak hujan yang akan
memunculkan sebuah harapan. Hujan tak pernah jahat, dia akan terlihat
begitu mempesona setelahnya. Terima Kasih.
Senin, 15 April 2013
Kepada, kehidupan.
Kepada, kehidupan.
Iya aku akan langsung mengakuinya sekarang bahwa aku takut kepadamu. Ketika umurku semakin bertambah, semakin aku takut menghadapimu. Ketika aku sedang memikirkan entah itu besok, lusa, minggu depan, bulan depan bahkan beberapa puluh tahun yang akan datang, aku tetap takut denganmu. Aku takut mimpi-mimpiku tidak tercapai. Aku akan semakin mengecewakan orang-orang yang berada di dekatku.
Aku takut aku tidak akan bahagia saat menghadapimu di masa yang akan datang. Aku takut, iya aku takut kepadamu, kehidupan. Sekarang sebut saja aku pengecut. Dan kehidupan, boleh tolong bagi tahu rahasianya agar aku tidak takut lagi dalam menghadapimu?
Yang sedang ketakutan tetapi harus tetap menghadapimu,
Lindi, Mahasiswi, 18tahun.
Iya aku akan langsung mengakuinya sekarang bahwa aku takut kepadamu. Ketika umurku semakin bertambah, semakin aku takut menghadapimu. Ketika aku sedang memikirkan entah itu besok, lusa, minggu depan, bulan depan bahkan beberapa puluh tahun yang akan datang, aku tetap takut denganmu. Aku takut mimpi-mimpiku tidak tercapai. Aku akan semakin mengecewakan orang-orang yang berada di dekatku.
Aku takut aku tidak akan bahagia saat menghadapimu di masa yang akan datang. Aku takut, iya aku takut kepadamu, kehidupan. Sekarang sebut saja aku pengecut. Dan kehidupan, boleh tolong bagi tahu rahasianya agar aku tidak takut lagi dalam menghadapimu?
Yang sedang ketakutan tetapi harus tetap menghadapimu,
Lindi, Mahasiswi, 18tahun.
10Hari Setelah Kamu Pergi
”Anjing emang gitu. Sebelum gigit, cium-cium dulu.” - zarry hendrik***
Hari pertama.
Aku bangun tidur kesiangan. Sinar matahari muncul masuk lewat jendela kamar. Tidak terlalu terang, pagi ini udarapun dingin. Dan aku masih tidak bergeming di atas kasur. Tisu-tisu berceceran. Iya. Aku menangis semalaman.
Malam tadi, masih teringat dengan jelas saat-saat Nanda memastikan bahwa kami tidak akan lagi bersama. Alasannya? Tidak masuk akal. Beberapa orang meragukannya, tidak denganku, aku masih saja percaya semua kata demi kata yang keluar dari mulut Nanda.
Hari ini aku libur. Aku akan tidur lebih lama.
***
Hari kedua.
“Kamu percaya dengan seluruh alasannya, Lindi? Hei. Berhentilah menjadi manusia bodoh. Alasan dia sama sekali tidak masuk akal. Dia brengsek! Hentikan tangisanmu. Sia-sia.” Kali ini sahabatku yang keliatan kesal. Aku tau, ini caranya untuk membuatku bangkit dan melupakan Nanda.
“Apa itu artinya Nanda berbohong?”
“Sangat!”
***
Hari ketiga.
“Sudah beberapa hari ini, aku melihatmu tidak lagi bahagia seperti biasa. Apa karena Nanda?” Kak Sandy, memandangku, sejurus kemudian aku sudah dipeluknya. Aku mengangguk.
“Lindi.. Kamu itu cantik. Lelaki manapun, ingin dekat denganmu. Lupakan Nnda. Dari awal aku tau, Nanda itu tidak baik untukmu. Dengan hanya melihatnya sekali saja aku tidak menyukainya. Aku bahkan telah memperingatkan kamu dari awal.”
Sore ini hujan kembali mengingatkan seluruh rasa sakitnya ditinggalkan. Aku masih mengharapkan adanya Nanda sekarang.
***
Hari keempat.
Pagi ini aku masuk. Senyum belum juga merekah dari bibirku. Teman-temanpun menyadari sikapku yang mungkin saja terlihat memprihatinkan.
“Sedih? Kami mengkhawatirkanmu Lindi.. Bertahanlah. Bukan bertahan di atas luka. Tapi ikut meleburlah dengan suka cita. Siapapun yang membuatmu terluka, dia tidak pantas kamu harapkan.” Kak Sandy menguatkan lagi. Mereka bisa saja tidak mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Nanda. Sayangnya, aku tak pandai menyimpan duka. Raut muka kesedihan selalu jujur kapan saja.
“Iya. Hanya saja aku terlalu kecewa.” Jelasku, dengan senyum yang dipaksakan.
***
Hari kelima.
“Ini baru Lindi. Jangan pernah sedih lagi. Kami semua menyayangimu.”
Hari ini, entah darimana ku dapatkan kekuatan. Aku mulai mampu tersenyum. Iya, paling tidak aku berpura-pura di depan mereka.
***
Hari keenam.
Tangisan ini terlalu pagi untuk hadir lagi. Malam tadi, aku memimpikan Nanda. Semesta tahu, aku sedang merindunya sekarang. Aku ingin sekali dipeluknya.
***
Hari ketujuh.
“Dia itu tidak baik untukmu, Lindi. Mamah tidak suka dengannya. Anak mamah harus kuat. Tunjukkan kepadanya, bahwa dia akan menyesal menyia-nyiakanmu. Dia bukan jodohmu, nak. Jangan biarkan hatimu tersiksa lebih lama.” Aku memeluk mamahku dengan berurai air mata. Di dekapnya, aku merasakan kenyamanan. Mamah benar, hatiku berhak lepas dari kesedihan.
***
Hari kedelapan.
Hati: “Aku tidak yakin Nanda berbohong. Bisa saja orang tuanya terlampau posesif hingga takut anaknya cepat jatuh di pelukan perempuan yang menyayanginya.”
Logika: “Hati, jangan bekeras, gunakan akal sehat. Umur Nanda 17 tahun. Dia bukan anak kecil lagi. Untuk apa orang tuanya ketakutan? Itu hanya alasan dia saja.”
Hati: “Apa salahku? Aku tulus mencintainya. Aku selalu sabar menunggunya. Aku merindu di tiap hari-harinya.”
Logika: “Salahmu menjadi orang bodoh! Dia mempermainkanmu sejak awal. Dia berhasil menaklukanmu, lalu sekarang membuangmu. Pikir! Setiap orang bisa berubah kapan saja. Mungkin sekarang dia sedang mengharapkan orang lain, atau bisa saja dia memang hanya main-main saat bertemu kamu.”
Hati: “Harusnya aku menyadari ini dari awal.”
Logika: “Kamu menyadarinya. Tapi kamu abaikan. Kamu dibutakan cinta.”
Aku sependapat dengan percakapan ini. Harusnya aku lebih peka. Nanda amat sangat berkemungkinan untuk mempermainkanku. Dia tahu aku sangat menyayanginya, dan aku percaya bahwa dia benar-benar lelaki baik. Itu caranya merusak hati yang setiap hari merindunya.
“Nan. Kamu benar-benar
***
Hari kesembilan.
Ini senyum kemenangan. Aku yakin, aku akan bahagia tanpa Nanda sekalipun. Mungkin aku tidak bisa membenci Nanda, seperti halnya mereka. Tapi aku mampu, melanjutkan hidupku. Untuk apa menunggu, jika aku tahu Nanda memang hanya ingin mempermainkan hatiku. Sia-sia. Lebih baik melupakannya.
***
Hari kesepuluh.
Iya. Aku tak pernah merasa sebahagia ini setelah kepergian Nanda. Di sekitarku, mereka menyayangiku, sumber bahagiaku, penguat hatiku. Mulai dari hari kesepuluh ini hingga ribuan hari berikutnya. Tidak akan ada lagi Nanda yang dulu. Kini hanya ada aku, dan sumber bahagiaku.
Kini aku melangkah, dengan senyum tanda aku mampu memulai hidup baru tanpa Nanda. Susah memang, tetapi bukan berarti tidak bisa. Ini proses. Proses melupakan.
(Bukan) Surat Cinta
Dear kamu.. Iya aku tau ini bodoh. Tapi cuma dari sini aku bisa cerita.
Dear kamu yang belum lama hadir dalam keseharian aku.. Aku tak tau harus memulai dari mana, bagaimana dan seperti apa. Keliatan kan, dari kamu baca tulisan ini sekarang.
Kamu, terima kasih telah bersabar selama ini dengan kelakuanku yang seperti ini. Aku memang anak kecil yang berumur dewasa. Tidak seperti kamu yang aku akui dewasa lahir bathin.
Kamu, ini tentang hubungan yang aku tidak tau maknanya seperti apa. Kamu tau, aku masih tidak menyangka akan secepat ini menemukan ruang hati yang baru (yang harus aku singgahi) kini.
Kamu, andai saja kamu tau aku sedang menata hati yang sempat dihancurkan oleh orang lain sewaktu kamu datang. Banyak kejadian yang sudah aku alami menjadi trauma akut buatku. Aku tau, bukan salahmu. Aku pun tak tau tentang keinginan semesta mempertemukan kita. Aku bahagia, ketika kamu datang dengan membawa ‘kalimat keseriusan’. Aku bahagia, tidak ada seseorang yang sepertimu menyampaikan kebahagiaan itu. Aku tidak tau harus berkata seperti apa. Katakan aku gengsi. Katakan aku malu. Tak apa. Masa laluku memang terlampau kejam. Ia yang membuatku tak lagi berani menaruh hati sembarangan. Tak lagi berani mempercayakan hati untuk dibagi.
Kamu tau, aku menunggu hati ini diluluhkanmu. Hanya saja, semakin lama aku semakin bingung akan sikapmu. Aku tak suka dipaksa. Aku tak suka diatur. Katakan aku keras kepala. Memang. Aku menginginkan kebebasan seperti apa yang aku mau. Aku selalu bilang iya jika kamu meminta. Tapi aku manusia biasa. Aku punya batas letih yang biasa. Apa kamu pernah tau? Aku melakukan segala sesuatu sendirian. Tidak pernah sekalipun ingin menyusahkanmu. Karena aku menghargaimu. Aku ingin menyenangkan hatimu, meski aku harus berbohong tentang aku.
Sekarang.. Hanya karena aku tak mau mengikuti mau mu, kamu katakan aku tak mampu diajak ikut bersusah-susah. Andai kamu tau, hidupku tak semudah yang di pikiran orang-orang. Hidupku penuh air mata, penuh dengan rasa letih. Masih bisa kamu mengatakan aku tidak bisa susah?
Mengenai prinsip yang aku punya. Aku ingin menepati janji yang sudah ku ucap. Jangan pernah katakan, aku lebih mementingkan teman daripada kamu. Aku punya janji, sebisa mungkin aku tepatin. Itu prinsip. Mungkin pikirmu, kita akan berjodoh kelak. Lalu kamu bebas merangkulku, dan memelukku. Tidak. Maaf, aku risih dengan itu. Kita baru saja kenal. Kamu inginkan hal romantis? Perhatikan aku. Pahami aku. Itu romantis buatku.
Kamu menginginkan aku berada selalu di sisimu. Ah, kamu pintar menerbangkan hatiku. Aku merasa penting buatmu. Tapi tidak harus aku yang setiap hari kamu ajak ke rumahmu. Atau mengikuti kamu yang sedang asik dengan pekerjaanmu. Oke. Sesekali. Oke. Selebihnya aku punya hidup sendiri, aku letih. Aku butuh istirahat.
Kamu bilang, bahwa kita harus saling mengerti. Saling? Apa yang kamu maksud satu sama lain? Menurutku, aku sudah mengerti kamu semampuku. Sekarang.. Bisakah kini giliranmu? Untuk urusan hati. Aku ingin berbenah diri. Aku mau.. Semoga aku mampu. Kini, apakah kamu ingin bersabar lagi?
Terima kasih, kamu. Aku luluh dengan kesabaranmu yang sudah-sudah. Maafkan aku telah menjadi sosok yang menyebalkan. Semoga kamu maafkan. Sekarang, mari liat semesta. Apakah kita direstui semesta atau malah dijauhkan?
Dear kamu yang belum lama hadir dalam keseharian aku.. Aku tak tau harus memulai dari mana, bagaimana dan seperti apa. Keliatan kan, dari kamu baca tulisan ini sekarang.
Kamu, terima kasih telah bersabar selama ini dengan kelakuanku yang seperti ini. Aku memang anak kecil yang berumur dewasa. Tidak seperti kamu yang aku akui dewasa lahir bathin.
Kamu, ini tentang hubungan yang aku tidak tau maknanya seperti apa. Kamu tau, aku masih tidak menyangka akan secepat ini menemukan ruang hati yang baru (yang harus aku singgahi) kini.
Kamu, andai saja kamu tau aku sedang menata hati yang sempat dihancurkan oleh orang lain sewaktu kamu datang. Banyak kejadian yang sudah aku alami menjadi trauma akut buatku. Aku tau, bukan salahmu. Aku pun tak tau tentang keinginan semesta mempertemukan kita. Aku bahagia, ketika kamu datang dengan membawa ‘kalimat keseriusan’. Aku bahagia, tidak ada seseorang yang sepertimu menyampaikan kebahagiaan itu. Aku tidak tau harus berkata seperti apa. Katakan aku gengsi. Katakan aku malu. Tak apa. Masa laluku memang terlampau kejam. Ia yang membuatku tak lagi berani menaruh hati sembarangan. Tak lagi berani mempercayakan hati untuk dibagi.
Kamu tau, aku menunggu hati ini diluluhkanmu. Hanya saja, semakin lama aku semakin bingung akan sikapmu. Aku tak suka dipaksa. Aku tak suka diatur. Katakan aku keras kepala. Memang. Aku menginginkan kebebasan seperti apa yang aku mau. Aku selalu bilang iya jika kamu meminta. Tapi aku manusia biasa. Aku punya batas letih yang biasa. Apa kamu pernah tau? Aku melakukan segala sesuatu sendirian. Tidak pernah sekalipun ingin menyusahkanmu. Karena aku menghargaimu. Aku ingin menyenangkan hatimu, meski aku harus berbohong tentang aku.
Sekarang.. Hanya karena aku tak mau mengikuti mau mu, kamu katakan aku tak mampu diajak ikut bersusah-susah. Andai kamu tau, hidupku tak semudah yang di pikiran orang-orang. Hidupku penuh air mata, penuh dengan rasa letih. Masih bisa kamu mengatakan aku tidak bisa susah?
Mengenai prinsip yang aku punya. Aku ingin menepati janji yang sudah ku ucap. Jangan pernah katakan, aku lebih mementingkan teman daripada kamu. Aku punya janji, sebisa mungkin aku tepatin. Itu prinsip. Mungkin pikirmu, kita akan berjodoh kelak. Lalu kamu bebas merangkulku, dan memelukku. Tidak. Maaf, aku risih dengan itu. Kita baru saja kenal. Kamu inginkan hal romantis? Perhatikan aku. Pahami aku. Itu romantis buatku.
Kamu menginginkan aku berada selalu di sisimu. Ah, kamu pintar menerbangkan hatiku. Aku merasa penting buatmu. Tapi tidak harus aku yang setiap hari kamu ajak ke rumahmu. Atau mengikuti kamu yang sedang asik dengan pekerjaanmu. Oke. Sesekali. Oke. Selebihnya aku punya hidup sendiri, aku letih. Aku butuh istirahat.
Kamu bilang, bahwa kita harus saling mengerti. Saling? Apa yang kamu maksud satu sama lain? Menurutku, aku sudah mengerti kamu semampuku. Sekarang.. Bisakah kini giliranmu? Untuk urusan hati. Aku ingin berbenah diri. Aku mau.. Semoga aku mampu. Kini, apakah kamu ingin bersabar lagi?
Terima kasih, kamu. Aku luluh dengan kesabaranmu yang sudah-sudah. Maafkan aku telah menjadi sosok yang menyebalkan. Semoga kamu maafkan. Sekarang, mari liat semesta. Apakah kita direstui semesta atau malah dijauhkan?
Sepertinya Aku Mencintaimu
Awalnya, matamu dan senyummu tak berarti apa-apa bagiku. Sapa
lembutmu, tutur katamu, bukan menjadi alasan senyumku setiap harinya.
Semua mengalir begitu saja, kita tertawa bersama, kita menghabiskan
waktu bersama, tanpa tahu bahwa cinta diam-diam menyergap dan
menyeringai santai dibalik punggungmu dan punggungku. Kita saling
bercanda, menertawakan diri sendiri, tanpa tahu bahwa rasa itu menelusup
tanpa ragu dan mulai mengisi labirin-labirin hatimu dan hatiku yang
telah lama tak diisi oleh seseorang yang spesial.
Tatapan matamu, mulai menjadi hal yang tak biasa di mataku. Caramu mengungkapkan pendapat, tak lagi menjadi hal yang kuhadapi dengan begitu santai. Renyah suara tawamu menghipnotis bibirku untuk melengkungkan senyum manis, menyambut lekuk bibirmu yang tersenyum saat menatapku. Aku tahu semua berubah menjadi begitu indah, sejak pembicaraan yang sederhana menjadi pembicaraan spesial yang begitu menyenangkan bagiku. Aku bertanya ragu, inikah kamu yang tiba-tiba mengubah segalanya jadi merah jambu?
Tanpa kusadari, namamu sering kuselipkan dalam baris-baris doa. Diam-diam aku senang menulis tentangmu, tersenyum tanpa sebab sambil terus menjentikkan jemariku. Tanpa kesengajaan, kauhadir dalam mimpiku, memelukku dengan erat dan hangat, sesuatu yang belum tentu kutemukan dalam dunia nyata saat aku terbangun nanti. Hari-hariku kini terisi oleh hadirmu, laju otakku kini tak mau berhenti memikirkanmu, aliran darahku menggelembungkan namamu dalam setiap tetes hemoglobinnya. Berlebihan kah? Bukankah mahluk Tuhan selalu bertingkah berlebihan ketika sedang jatuh cinta?
Saat menatap matamu, ada kata-kata yang sulit keluar dari bibirku. Saat mendengar sapa manjamu, tercipta rasa yang begitu lemah untuk kutunjukkan walaupun aku sedang berada bersamamu. Aku diam, saat menatap matamu apalagi mendengar suaramu. Aku membiarkan diriku jatuh dalam rindu yang mengekang dan membuatku sekarat. Aku membiarkan diriku tersiksa oleh angan yang kauciptakan dalam magisnya kehadiranmu. Subhanallah, ciptaanMu yang satu ini membuatku pusing tujuh keliling!
Setiap malam, ketika dingin menyergap tubuhku, aku malah membayangkanmu, bagaimana jika kamu memelukku? Bagaimana jika ini? Bagimana jika itu? Ah, selain indah ternyata kamu juga pandai menganggu pikiran seseorang, sehingga otakku hanya berisi kamu, kamu, dan kamu dalam berbagai bentuk!
Sepertinya aku mencintaimu…
Pada setiap percakapan kecil yang berubah menjadi perhatian sederhana yang kauperlihatkan padaku.
Sepertinya aku mencintaimu…
Dengan kebisuan yang kausampaikan padaku. Kita hanya berbicara lewat tatapan mata, kita hanya saling mengungkapkan lewat sentuhan-sentuhan kecil.
Sepertinya aku mencintaimu…
Karena aku sering merindukanmu, karena aku bahkan tak tahu mengapa aku begitu menggilaimu
Sepertinya aku mencintaimu…
Kepada kamu, yang masih saja tak mengerti perasaanku,
Tatapan matamu, mulai menjadi hal yang tak biasa di mataku. Caramu mengungkapkan pendapat, tak lagi menjadi hal yang kuhadapi dengan begitu santai. Renyah suara tawamu menghipnotis bibirku untuk melengkungkan senyum manis, menyambut lekuk bibirmu yang tersenyum saat menatapku. Aku tahu semua berubah menjadi begitu indah, sejak pembicaraan yang sederhana menjadi pembicaraan spesial yang begitu menyenangkan bagiku. Aku bertanya ragu, inikah kamu yang tiba-tiba mengubah segalanya jadi merah jambu?
Tanpa kusadari, namamu sering kuselipkan dalam baris-baris doa. Diam-diam aku senang menulis tentangmu, tersenyum tanpa sebab sambil terus menjentikkan jemariku. Tanpa kesengajaan, kauhadir dalam mimpiku, memelukku dengan erat dan hangat, sesuatu yang belum tentu kutemukan dalam dunia nyata saat aku terbangun nanti. Hari-hariku kini terisi oleh hadirmu, laju otakku kini tak mau berhenti memikirkanmu, aliran darahku menggelembungkan namamu dalam setiap tetes hemoglobinnya. Berlebihan kah? Bukankah mahluk Tuhan selalu bertingkah berlebihan ketika sedang jatuh cinta?
Saat menatap matamu, ada kata-kata yang sulit keluar dari bibirku. Saat mendengar sapa manjamu, tercipta rasa yang begitu lemah untuk kutunjukkan walaupun aku sedang berada bersamamu. Aku diam, saat menatap matamu apalagi mendengar suaramu. Aku membiarkan diriku jatuh dalam rindu yang mengekang dan membuatku sekarat. Aku membiarkan diriku tersiksa oleh angan yang kauciptakan dalam magisnya kehadiranmu. Subhanallah, ciptaanMu yang satu ini membuatku pusing tujuh keliling!
Setiap malam, ketika dingin menyergap tubuhku, aku malah membayangkanmu, bagaimana jika kamu memelukku? Bagaimana jika ini? Bagimana jika itu? Ah, selain indah ternyata kamu juga pandai menganggu pikiran seseorang, sehingga otakku hanya berisi kamu, kamu, dan kamu dalam berbagai bentuk!
Sepertinya aku mencintaimu…
Pada setiap percakapan kecil yang berubah menjadi perhatian sederhana yang kauperlihatkan padaku.
Sepertinya aku mencintaimu…
Dengan kebisuan yang kausampaikan padaku. Kita hanya berbicara lewat tatapan mata, kita hanya saling mengungkapkan lewat sentuhan-sentuhan kecil.
Sepertinya aku mencintaimu…
Karena aku sering merindukanmu, karena aku bahkan tak tahu mengapa aku begitu menggilaimu
Sepertinya aku mencintaimu…
Kepada kamu, yang masih saja tak mengerti perasaanku,
Sabtu, 13 April 2013
Ini buat dedek-dedek yg lagi ujian! :3
Wohaaaaaa lagi musim ujian ya? Coba baca "Tipe Peserta Ujian" ini deh
"Ssst!!! Nomer 2 apa? Contekin gue. Pelit amat ah lo, ya elah... Oh shit, oh damn, oh fuck. Oh yesss, oh noooooo!"
Demi cinta fitri, kata-kata kaya gitu sering banget gue atau lo denger yekannn? Tepatnya lagi pas ujian. Entah itu ujian semester, atau ujian nasional. Ujian itu kayak ngedapetin cinta sih ya, susah susah gampang. TJIEEEEEE~
Sebenernya sih, menurut gue, peserta ujian itu cuma ada 2 tipe :
1. Tipe yang GAMPANG MOVE-ON. Ya, gampang move-on.
Tipe peserta yang kayak gini ini yang paling direkomendasiin. Sebabnya apa?
Saat dia nemuin soal yang sekiranya susah untuk dikerjain, dia bakal langsung move-on ke soal berikutnya. Nggak diem aja, nggak stuck di soal itu, nggak kejebak di masa lalu juga. Garuk-garuk nggak jelas, pura-pura ngerjain, kertas burem jadi full gambar-gambar nggak jelas, yang awalnya ngitung malah akhirannya gambar orang ngocok. Ngocok arisan sob! Ngeres yeeeee otaknya!
Suram itu, suram.
"Masa lalu yang susah dilupain emang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi kalo waktu lo habis cuma buat mikirin masa lalu yang emang bener-bener nggak bisa lo dapetin lagi, yang akhirnya lo jadi pribadi yang terpuruk." -Lindi, 18th, pernah galau.
"Soal yang susah dikerjain emang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi kalo waktu lo habis cuma buat mikirin soal yang emang bener-bener nggak bisa lo kerjain, yang akhirnya lo jadi dapet nilai buruk." -Lindi, 18th, pernah nyontek.
Beda tipis yekannn? *Itu sekalian tsurhat sih*
2. Tipe yang SUSAH MOVE-ON. Ya, susah, susah move-on. Hih!
"Anjrit ini soal apaan sih, nggak ngerti gue."
Gue sering tuh ngerasain kayak gitu. Saking penasarannya sama soal, gatau gimana caranya gue harus bisa ngerjain tuh soal.
Tengok kanan. Tengok kiri. Lihat depan. Lihat belakang. Tak kunjung dapat jawaban, hanya harapan. Sama contekan aja di PHP-in! Hih sedih da aing mah!
Sampe akhirnya waktu gue kebuang sia-sia buat mantengin satu soal biadab yang bikin gue penasaran itu tadi. Setelah gue pikir-pikir, buat apa ya gue kayak gitu tadi, harusnya gue move-on. Udah tau soal itu tadi ga ngenakin, masih aja dipikir. Sama kayak mantan, udah tau nggak ngenakin ati, bikin galau mulu, masih aja dipikirin. *lagi-lagi tsurhat*
Yaaa... Dipilih aja deh diantara dua itu tadi lo termasuk yang mana.
Selamat siang. Selamat move-on! :*
"Ssst!!! Nomer 2 apa? Contekin gue. Pelit amat ah lo, ya elah... Oh shit, oh damn, oh fuck. Oh yesss, oh noooooo!"
Demi cinta fitri, kata-kata kaya gitu sering banget gue atau lo denger yekannn? Tepatnya lagi pas ujian. Entah itu ujian semester, atau ujian nasional. Ujian itu kayak ngedapetin cinta sih ya, susah susah gampang. TJIEEEEEE~
Sebenernya sih, menurut gue, peserta ujian itu cuma ada 2 tipe :
1. Tipe yang GAMPANG MOVE-ON. Ya, gampang move-on.
Tipe peserta yang kayak gini ini yang paling direkomendasiin. Sebabnya apa?
Saat dia nemuin soal yang sekiranya susah untuk dikerjain, dia bakal langsung move-on ke soal berikutnya. Nggak diem aja, nggak stuck di soal itu, nggak kejebak di masa lalu juga. Garuk-garuk nggak jelas, pura-pura ngerjain, kertas burem jadi full gambar-gambar nggak jelas, yang awalnya ngitung malah akhirannya gambar orang ngocok. Ngocok arisan sob! Ngeres yeeeee otaknya!
Suram itu, suram.
"Masa lalu yang susah dilupain emang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi kalo waktu lo habis cuma buat mikirin masa lalu yang emang bener-bener nggak bisa lo dapetin lagi, yang akhirnya lo jadi pribadi yang terpuruk." -Lindi, 18th, pernah galau.
"Soal yang susah dikerjain emang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi kalo waktu lo habis cuma buat mikirin soal yang emang bener-bener nggak bisa lo kerjain, yang akhirnya lo jadi dapet nilai buruk." -Lindi, 18th, pernah nyontek.
Beda tipis yekannn? *Itu sekalian tsurhat sih*
2. Tipe yang SUSAH MOVE-ON. Ya, susah, susah move-on. Hih!
"Anjrit ini soal apaan sih, nggak ngerti gue."
Gue sering tuh ngerasain kayak gitu. Saking penasarannya sama soal, gatau gimana caranya gue harus bisa ngerjain tuh soal.
Tengok kanan. Tengok kiri. Lihat depan. Lihat belakang. Tak kunjung dapat jawaban, hanya harapan. Sama contekan aja di PHP-in! Hih sedih da aing mah!
Sampe akhirnya waktu gue kebuang sia-sia buat mantengin satu soal biadab yang bikin gue penasaran itu tadi. Setelah gue pikir-pikir, buat apa ya gue kayak gitu tadi, harusnya gue move-on. Udah tau soal itu tadi ga ngenakin, masih aja dipikir. Sama kayak mantan, udah tau nggak ngenakin ati, bikin galau mulu, masih aja dipikirin. *lagi-lagi tsurhat*
Yaaa... Dipilih aja deh diantara dua itu tadi lo termasuk yang mana.
Selamat siang. Selamat move-on! :*
Teruntuk, Kamu.
Hai, Kamu. Maaf aku harus tulis ini di note karena akan
kepanjangan kalau aku nulis lewat chat atau SMS. Kamu, semakin besar
harusnya aku semakin belajar bagaimana caranya harus menghadapi hidup,
bukan? Dan kamu salah satu orang yang membuat aku belajar bagaimana
caranya menjadi terus kuat dan "hidup". :)
Entah kamu sadar atau nggak, aku udah hampir satu tahun hidup tanpa kamu. Ketika akhirnya kita harus saling terpisah dan hidup tanpa hubungan lagi. Ketika akhirnya kamu meninggalkanku dan memilih yg lain. Kadang, aku mikir, kenapa ya kita harus banget hidup dalam sebuah hubungan, lalu menggalaukan diri sendiri dan mellow? Jadi, aku baca sebuah artikel yang ditulis Sharmi Shotu kalau sebuah hubungan itu cuma tipuan dunia. Kita percaya bahwa kita telah disatukan dengan orang lain dalam proses ritual atau kata-kata, "Aku suka, jadi kamu mau jadi pacar aku?" lalu orang di depannya mengangguk dan jadian, ketimbang kita harus percaya pada hukum alam yang bilang kalau kita harus menerima dan merengkuh kesendirian kita baru setelah itu kita bisa mengalami cinta sejati. Aneh, ya? Atau aku yang tiba-tiba jadi aneh nulis begini ke kamu? Hehe.
Aku masih sayang sama Kamu, tapi sekarang sama sayangnya seperti aku sayang Ayahku, teman-teman cowo ku di geng "Cwidder", novel-novelku dirumah. Aku, pada akhirnya, belajar kalau cinta sejati akhirnya nggak pernah mengenal ikatan atau hierarki. Dan bukan mustahil kalau akhirnya aku cinta sama kamu tanpa merasa kamu harus ada dalam kehidupan aku, Kamu.
Setelah baca tulisan Mbak Sharmi, aku tahu sekarang aku lega, Kamu. Karena aku ikhlas. Dan kamu, mantan terbaik yang pernah ada dalam hidup aku. Aku yakin masa depan kita berdua cerah dan bahagia. Aku harap suatu saat kita bisa lagi ngopi-ngopi tanpa rasa canggung. Atau lewatin malam bareng lagi di rumah kamu di Depok atau di rumahku di Bogor? Atau nyanyi lagu "My Love"-nya Westlife bareng-bareng lagi?
Akhirnya, lewat note ini, aku cuma mau bilang, kalau akhirnya, aku bisa berjalan terus. Hampir satu tahun ini, aku masih terperangkap selalu mikirin kamu dan itu membuat aku nggak bisa terima orang baru yang datang buat aku. Beberapa orang udah berkorban atas keegoisan aku dengan mempersalahkan kamu. Mulai sekarang dan baru sekarang, aku mau lepasin kamu, seperti kamu bisa lepasin aku. Aku lega akhirnya bisa nulis ini. Lega bisa sejujur ini. Kamu, aku bisa move on mulai sekarang. :)
Teruntuk kamu-nya aku, dulu.
NandaAdiNugraha
Entah kamu sadar atau nggak, aku udah hampir satu tahun hidup tanpa kamu. Ketika akhirnya kita harus saling terpisah dan hidup tanpa hubungan lagi. Ketika akhirnya kamu meninggalkanku dan memilih yg lain. Kadang, aku mikir, kenapa ya kita harus banget hidup dalam sebuah hubungan, lalu menggalaukan diri sendiri dan mellow? Jadi, aku baca sebuah artikel yang ditulis Sharmi Shotu kalau sebuah hubungan itu cuma tipuan dunia. Kita percaya bahwa kita telah disatukan dengan orang lain dalam proses ritual atau kata-kata, "Aku suka, jadi kamu mau jadi pacar aku?" lalu orang di depannya mengangguk dan jadian, ketimbang kita harus percaya pada hukum alam yang bilang kalau kita harus menerima dan merengkuh kesendirian kita baru setelah itu kita bisa mengalami cinta sejati. Aneh, ya? Atau aku yang tiba-tiba jadi aneh nulis begini ke kamu? Hehe.
Aku masih sayang sama Kamu, tapi sekarang sama sayangnya seperti aku sayang Ayahku, teman-teman cowo ku di geng "Cwidder", novel-novelku dirumah. Aku, pada akhirnya, belajar kalau cinta sejati akhirnya nggak pernah mengenal ikatan atau hierarki. Dan bukan mustahil kalau akhirnya aku cinta sama kamu tanpa merasa kamu harus ada dalam kehidupan aku, Kamu.
Setelah baca tulisan Mbak Sharmi, aku tahu sekarang aku lega, Kamu. Karena aku ikhlas. Dan kamu, mantan terbaik yang pernah ada dalam hidup aku. Aku yakin masa depan kita berdua cerah dan bahagia. Aku harap suatu saat kita bisa lagi ngopi-ngopi tanpa rasa canggung. Atau lewatin malam bareng lagi di rumah kamu di Depok atau di rumahku di Bogor? Atau nyanyi lagu "My Love"-nya Westlife bareng-bareng lagi?
Akhirnya, lewat note ini, aku cuma mau bilang, kalau akhirnya, aku bisa berjalan terus. Hampir satu tahun ini, aku masih terperangkap selalu mikirin kamu dan itu membuat aku nggak bisa terima orang baru yang datang buat aku. Beberapa orang udah berkorban atas keegoisan aku dengan mempersalahkan kamu. Mulai sekarang dan baru sekarang, aku mau lepasin kamu, seperti kamu bisa lepasin aku. Aku lega akhirnya bisa nulis ini. Lega bisa sejujur ini. Kamu, aku bisa move on mulai sekarang. :)
Teruntuk kamu-nya aku, dulu.
NandaAdiNugraha
Langganan:
Postingan (Atom)