Senin, 15 April 2013

10Hari Setelah Kamu Pergi

”Anjing emang gitu. Sebelum gigit, cium-cium dulu.” - zarry hendrik
***
Hari pertama.
Aku bangun tidur kesiangan. Sinar matahari muncul masuk lewat jendela kamar. Tidak terlalu terang, pagi ini udarapun dingin. Dan aku masih tidak bergeming di atas kasur. Tisu-tisu berceceran. Iya. Aku menangis semalaman.

Malam tadi, masih teringat dengan jelas saat-saat Nanda memastikan bahwa kami tidak akan lagi bersama. Alasannya? Tidak masuk akal. Beberapa orang meragukannya, tidak denganku, aku masih saja percaya semua kata demi kata yang keluar dari mulut Nanda.

Hari ini aku libur. Aku akan tidur lebih lama.

***
Hari kedua.
“Kamu percaya dengan seluruh alasannya, Lindi? Hei. Berhentilah menjadi manusia bodoh. Alasan dia sama sekali tidak masuk akal. Dia brengsek! Hentikan tangisanmu. Sia-sia.” Kali ini sahabatku yang keliatan kesal. Aku tau, ini caranya untuk membuatku bangkit dan melupakan Nanda.
“Apa itu artinya Nanda berbohong?”
“Sangat!”


***
Hari ketiga.
“Sudah beberapa hari ini, aku melihatmu tidak lagi bahagia seperti biasa. Apa karena Nanda?” Kak Sandy, memandangku, sejurus kemudian aku sudah dipeluknya. Aku mengangguk.
“Lindi.. Kamu itu cantik. Lelaki manapun, ingin dekat denganmu. Lupakan Nnda. Dari awal aku tau, Nanda itu tidak baik untukmu. Dengan hanya melihatnya sekali saja aku tidak menyukainya. Aku bahkan telah memperingatkan kamu dari awal.”
Sore ini hujan kembali mengingatkan seluruh rasa sakitnya ditinggalkan. Aku masih mengharapkan adanya Nanda sekarang.

***
Hari keempat.
Pagi ini aku masuk. Senyum belum juga merekah dari bibirku. Teman-temanpun menyadari sikapku yang mungkin saja terlihat memprihatinkan.
“Sedih? Kami mengkhawatirkanmu Lindi.. Bertahanlah. Bukan bertahan di atas luka. Tapi ikut meleburlah dengan suka cita. Siapapun yang membuatmu terluka, dia tidak pantas kamu harapkan.” Kak Sandy menguatkan lagi. Mereka bisa saja tidak mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Nanda. Sayangnya, aku tak pandai menyimpan duka. Raut muka kesedihan selalu jujur kapan saja.
“Iya. Hanya saja aku terlalu kecewa.” Jelasku, dengan senyum yang dipaksakan.

***
Hari kelima.
“Ini baru Lindi. Jangan pernah sedih lagi. Kami semua menyayangimu.”
Hari ini, entah darimana ku dapatkan kekuatan. Aku mulai mampu tersenyum. Iya, paling tidak aku berpura-pura di depan mereka.

***
Hari keenam.
Tangisan ini terlalu pagi untuk hadir lagi. Malam tadi, aku memimpikan Nanda. Semesta tahu, aku sedang merindunya sekarang. Aku ingin sekali dipeluknya.

***
Hari ketujuh.
“Dia itu tidak baik untukmu, Lindi. Mamah tidak suka dengannya. Anak mamah harus kuat. Tunjukkan kepadanya, bahwa dia akan menyesal menyia-nyiakanmu. Dia bukan jodohmu, nak. Jangan biarkan hatimu tersiksa lebih lama.” Aku memeluk mamahku dengan berurai air mata. Di dekapnya, aku merasakan kenyamanan. Mamah benar, hatiku berhak lepas dari kesedihan.

***
Hari kedelapan.
Hati: “Aku tidak yakin Nanda berbohong. Bisa saja orang tuanya terlampau posesif hingga takut anaknya cepat jatuh di pelukan perempuan yang menyayanginya.”
Logika: “Hati, jangan bekeras, gunakan akal sehat. Umur Nanda 17 tahun. Dia bukan anak kecil lagi. Untuk apa orang tuanya ketakutan? Itu hanya alasan dia saja.”
Hati: “Apa salahku? Aku tulus mencintainya. Aku selalu sabar menunggunya. Aku merindu di tiap hari-harinya.”
Logika: “Salahmu menjadi orang bodoh! Dia mempermainkanmu sejak awal. Dia berhasil menaklukanmu, lalu sekarang membuangmu. Pikir! Setiap orang bisa berubah kapan saja. Mungkin sekarang dia sedang mengharapkan orang lain, atau bisa saja dia memang hanya main-main saat bertemu kamu.”
Hati: “Harusnya aku menyadari ini dari awal.”
Logika: “Kamu menyadarinya. Tapi kamu abaikan. Kamu dibutakan cinta.”

Aku sependapat dengan percakapan ini. Harusnya aku lebih peka. Nanda amat sangat berkemungkinan untuk mempermainkanku. Dia tahu aku sangat menyayanginya, dan aku percaya bahwa dia benar-benar lelaki baik. Itu caranya merusak hati yang setiap hari merindunya.
“Nan. Kamu benar-benar bajingan! Melepaskanku begitu saja. Mematahkan hati ini hingga berkeping-keping. Harusnya kamu mati, paling tidak di hati dan pikiranku saat ini.” Sekarang, aku menguatkan hatiku sendiri.

***
Hari kesembilan.
Ini senyum kemenangan. Aku yakin, aku akan bahagia tanpa Nanda sekalipun. Mungkin aku tidak bisa membenci Nanda, seperti halnya mereka. Tapi aku mampu, melanjutkan hidupku. Untuk apa menunggu, jika aku tahu Nanda memang hanya ingin mempermainkan hatiku. Sia-sia. Lebih baik melupakannya.

***
Hari kesepuluh.
Iya. Aku tak pernah merasa sebahagia ini setelah kepergian Nanda. Di sekitarku, mereka menyayangiku, sumber bahagiaku, penguat hatiku. Mulai dari hari kesepuluh ini hingga ribuan hari berikutnya. Tidak akan ada lagi Nanda yang dulu. Kini hanya ada aku, dan sumber bahagiaku.

Kini aku melangkah, dengan senyum tanda aku mampu memulai hidup baru tanpa Nanda. Susah memang, tetapi bukan berarti tidak bisa. Ini proses. Proses melupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar