Dear kamu.. Iya aku tau ini bodoh. Tapi cuma dari sini aku bisa cerita.
Dear kamu yang belum lama hadir dalam keseharian aku.. Aku tak tau
harus memulai dari mana, bagaimana dan seperti apa. Keliatan kan, dari
kamu baca tulisan ini sekarang.
Kamu, terima kasih telah bersabar selama ini dengan kelakuanku yang
seperti ini. Aku memang anak kecil yang berumur dewasa. Tidak seperti
kamu yang aku akui dewasa lahir bathin.
Kamu, ini tentang hubungan yang aku tidak tau maknanya seperti apa.
Kamu tau, aku masih tidak menyangka akan secepat ini menemukan ruang
hati yang baru (yang harus aku singgahi) kini.
Kamu, andai saja kamu tau aku sedang menata hati yang sempat
dihancurkan oleh orang lain sewaktu kamu datang. Banyak kejadian yang
sudah aku alami menjadi trauma akut buatku. Aku tau, bukan salahmu. Aku
pun tak tau tentang keinginan semesta mempertemukan kita. Aku bahagia,
ketika kamu datang dengan membawa ‘kalimat keseriusan’. Aku bahagia,
tidak ada seseorang yang sepertimu menyampaikan kebahagiaan itu. Aku
tidak tau harus berkata seperti apa. Katakan aku gengsi. Katakan aku
malu. Tak apa. Masa laluku memang terlampau kejam. Ia yang membuatku tak
lagi berani menaruh hati sembarangan. Tak lagi berani mempercayakan
hati untuk dibagi.
Kamu tau, aku menunggu hati ini diluluhkanmu. Hanya saja, semakin
lama aku semakin bingung akan sikapmu. Aku tak suka dipaksa. Aku tak
suka diatur. Katakan aku keras kepala. Memang. Aku menginginkan
kebebasan seperti apa yang aku mau. Aku selalu bilang iya jika kamu
meminta. Tapi aku manusia biasa. Aku punya batas letih yang biasa. Apa
kamu pernah tau? Aku melakukan segala sesuatu sendirian. Tidak pernah
sekalipun ingin menyusahkanmu. Karena aku menghargaimu. Aku ingin
menyenangkan hatimu, meski aku harus berbohong tentang aku.
Sekarang.. Hanya karena aku tak mau mengikuti mau mu, kamu katakan
aku tak mampu diajak ikut bersusah-susah. Andai kamu tau, hidupku tak
semudah yang di pikiran orang-orang. Hidupku penuh air mata, penuh
dengan rasa letih. Masih bisa kamu mengatakan aku tidak bisa susah?
Mengenai prinsip yang aku punya. Aku ingin menepati janji yang sudah
ku ucap. Jangan pernah katakan, aku lebih mementingkan teman daripada
kamu. Aku punya janji, sebisa mungkin aku tepatin. Itu prinsip. Mungkin
pikirmu, kita akan berjodoh kelak. Lalu kamu bebas merangkulku, dan
memelukku. Tidak. Maaf, aku risih dengan itu. Kita baru saja kenal. Kamu
inginkan hal romantis? Perhatikan aku. Pahami aku. Itu romantis buatku.
Kamu menginginkan aku berada selalu di sisimu. Ah, kamu pintar
menerbangkan hatiku. Aku merasa penting buatmu. Tapi tidak harus aku
yang setiap hari kamu ajak ke rumahmu. Atau mengikuti kamu yang sedang
asik dengan pekerjaanmu. Oke. Sesekali. Oke. Selebihnya aku punya hidup
sendiri, aku letih. Aku butuh istirahat.
Kamu bilang, bahwa kita harus saling mengerti. Saling? Apa yang kamu
maksud satu sama lain? Menurutku, aku sudah mengerti kamu semampuku.
Sekarang.. Bisakah kini giliranmu? Untuk urusan hati. Aku ingin berbenah
diri. Aku mau.. Semoga aku mampu. Kini, apakah kamu ingin bersabar
lagi?
Terima kasih, kamu. Aku luluh dengan kesabaranmu yang sudah-sudah.
Maafkan aku telah menjadi sosok yang menyebalkan. Semoga kamu maafkan.
Sekarang, mari liat semesta. Apakah kita direstui semesta atau malah
dijauhkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar