Harusnya kali ini waktu senja perpisahan
kita di tempat biasa. Sayang ia tak datang, beralih dengan deras hujan.
Katamu, hujan ini begitu jahat, menghapus senja yang harus kita nikmati
berdua. Aku diam, bersandar padamu. Memandang haru.
“Kita masih ada waktu, sebelum jarak mengelabui.”
“Tak banyak. Aku menyesalinya.”
“Kita layak mendapatkan kehidupan di luar sana. Ingat? Aku, kamu dan sebuah hubungan yang begitu kita nikmati berdua.”
“Seandainya, semua tak berjalan dengan sangat indah. Siapa yang harus aku salahkan?”
“Tak ada.”
“Takdir?”
“Tidak.”
“Aku?”
“Bukan. Bagaimana kalo kita salahkan obrolan yang sedang terjadi sekarang.”
“Aku akan merindu waktu senja bersamamu. Tidak dengan hujan yang menghapus semua seperti ini.”
“Tak apa. Aku juga membencinya. Tapi tak selalu menyalahkannya. Malah ingin mengenangnya, sebagai kamu.”
“Lucu?”
“Sudahlah. Nikmati sekarang, hujan yang akan kamu ingat sebagai pelukan perpisahan.”
“Ya.. Kamu tak mencintaiku. Aku tahu.”
“Kamu terlalu.. Hmm.. Sedikit sok tahu. Sekarang, mulailah mencintai hujan, selain senja yang selalu kita nikmati berdua”
Aku tak mau tahu, batinku. Aku akan pergi dan kamu berpura-pura semua
akan baik-baik saja? Gila. Bagaimana jika kita tak akan ada lagi? Hanya
ada aku dan dia, atau kamu dan wanita itu. Entahlah. Aku memang harus
pergi untuk sekarang.
Kamu tahu, sedikit banyak kamu sudah menjadi senyum, tangis dan
harapan. Aku terlalu teliti, membaca pesanmu di kemasan susu kotakku.
Mungkin, benar katamu.
“Aku mencintaimu terlalu dalam. Kadang kita harus menyerah sekarang, sebelum nanti harapan begitu hebat.” - Kamu.
Sayangku, aku mencintaimu, juga senja dan kelak hujan yang akan
memunculkan sebuah harapan. Hujan tak pernah jahat, dia akan terlihat
begitu mempesona setelahnya. Terima Kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar