Untukmu, yang senyumnya masih kurindu.
Di
tempatmu, gelap sudah menggeser petang sementara senja baru saja datang
di tempatku. Malam minggu ini kau tengah larut dalam sibukmu di sana.
Bicara tentang malam minggu, ingatkah kamu tentang malam minggu pertama
kita?
Bulan Oktober lalu, aku begitu bahagianya sebab kamu menyempatkan diri ke
sini, menemuiku. Aku menjemputmu di pintu kedatangan luar negeri bandara
internasional Soekarno - Hatta. Dengan wajah lusuh usai kegiatan
praktikum di kampusku, aku menjemputmu.
Aku tidak menyangka ternyata jam kedatanganmu dipercepat. Sehingga, tepat lima belas menit aku tiba, rombonganmu datang.
Kamu berdiri di sana.
Dengan kaus abu - abu.
Kemudian bergerak semakin dekat, di depan mataku.
Aku gugup, tentu saja.
Ini kali pertama kita bertemu secara nyata, mata bertemu mata, kemudian hati bertemu hati.
Saat itu, kau berdiri tepat lima jengkal dari tempatku berdiri.
Kau tersenyum.
Sementara aku membatu.
Begitulah pertemuan kita memeluk segala rindu.
Senja
itu di hari Kamis, aku seutuhnya merasa memilikimu secara nyata. Sebab
selama ini dunia maya terlalu asyik mempermainkan hati. Kemudian kita
bertukar janji, untuk bertemu di hari sabtu. Iya, malam minggu pertama
kita.
Waktu
terasa begitu cepat membawaku ke hari Sabtu, tepat tanggal tiga belas
Oktober tahun lalu. Kita bertemu, seperti muda - mudi lainnya. Kita
bercengkrama, seperti muda - mudi lainnya. Saat itu mungkin aku terlihat
begitu bodoh, karena sungguh, aku benar - benar gugup melewati malam
minggu pertama kita. Sementara kamu begitu mahir mencairkan suasana.
Kemudian malam mendekap cerita kita, sesempurna malam menguapkan rindu kita.
Malam
minggu itu, entah mengapa setiap detik di malam
minggu tiga belas Oktober lalu begitu nyata di benakku. Sederhana saja,
aku merindukanmu.
Hai, Kamu.
Malam minggu tahun lalu adalah malam minggu pertama dan malam minggu terindah, tapi tentu, bukan malam minggu terakhir.
Semoga
waktu dengan cepatnya mempertemukan kita di malam minggu kedua, ketiga,
dan malam minggu kesekian kalinya pada waktu yang tak ditentukan.
Sekali lagi, aku merindumu.
Dariku, yang malam minggu ini hanya bertemankan rinduku akan senyummu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar