Minggu, 24 Maret 2013

"Aku yang Dia sembunyikan"

Aku tak pernah bebas mencintai dia. Dia lebih suka kucintai secara diam-diam. Dia lebih suka kucintai tanpa harus ada banyak orang yg tahu. Itulah kita. Ya dengan kemesraan yg kami sembunyikan, dengan sapaan sayang yg tak pernah terdengar di muka umum. Seringkali, ada rasa sakit yg menyelinap secara nyata dalam "kerahasiaan" ini. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tak pernah mampu melawan dia yg tetap saja mengatakan sayang meskipun aku selalu dia sembunyikan.

Kami memang terlihat seakan-akan tak memiliki hubungan khusus, kami memang seringkali terlihat seakan-akan tak punya perasaan apa-apa. Padahal saat kami hanya berdua, perasaan itu membucah dengan liarnya. Rasa cinta itu mengalir dengan derasnya. Tak ada orang lain yg tahu bahwa kami telah bersama, karna dia selalu berpendapat bahwa "Suatu hubungan memang tak butuh publikasi yg berlebihan". Tapi menurutku ini bukan hanya sekedar publikasi yg dia ceritakan. Nyatanya aku benar-benar disembunyikan, nyatanya saat dia bersama teman-temannya seakan-akan aku tak pernah ada di dekatnya. Aku diperlakukannya seperti orang lain.

Ada rasa sakit yg diam-diam menyiksaku, tapi aku masih sulit memutuskan tindakan yg harus kulakukan. Memang, di depannya aku tak pernah mempersalahkan peng-abaian-nya itu, tapi justru tindakan itulah yg membuatku tersiksa di belakangnya. Aku memang bahagia saat bersamanya, tapi apa gunanya kalau dia hanya sanggup untuk menyembunyikan ku? Aku memang merasa hangat jika dalam pelukannya, tapi apa gunanya jika pelukannya itu semu dan tak bisa terus menghangatkanku?

Aku terpaksa menunggu dihubungi terlebih dulu. Iya, jadi dia akan datang padaku ketika dia hanya membutuhkan ku. Padahal, aku merindukannya. Padahal aku ingin menghubunginya terlebih dulu. Aku seringkali merasa bukan seseorang yg penting dalam hidupnya, karena memang dia jarang memperlakukan ku layaknya orang penting dalam hidupnya. Padahal aku selalu saja menganggap dirinya penting. Bahkan sebagian diriku ada bersamanya.

Lupakan makan malam romantis, lupakan gandengan tangan yg manis, lupakan boneka yg tersenyum dengan bengis. Dia memang tak seromantis pria-pria lainnya. Dia memang selalu lupa memperlakukan ku layaknya wanita. Mungkin, karna aku sudah terbiasa disakiti. Mungkin perasaanku "buta" akan cinta sesungguhnya. Sehingga, perlakuan yg menyakitkan pun tetap ku anggap sebagai perlakuan yg membahagiakan ku.

Dia bahkan tak mempertegas status hubungan kita. Seringkali aku bertanya, "inikah cinta yg kucari jika dia hanya bisa menyakiti?" "Inikah dunia yg ku harapkan jika aku merasa frustasi?" "Inikah hubungan yg akan membahagiakan ku jika dia tak pernah menganggapku ada?"

Apakah ini saatnya untuk melanjutkan? atau berhenti ditengah jalan? Entahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar