Jumat, 12 Juli 2013

Oh Ini Namanya Jatuh Cinta

Orang yang jatuh cinta itu aneh. Jatuh cinta berarti punya kebiasaan baru… yang aneh. Kebiasaan baru yang selalu berhubungan sama dia yang membuat jatuh cinta. Anehnya, orang yang jatuh cinta gak pernah merasa dirinya aneh, bahkan keanehan pada diri orang yang membuat jatuh cinta gak pernah dianggap aneh oleh mereka yang sedang jatuh cinta.

Membaca kalimat di atas aneh, kan?

Jika tidak, mungkin memang karena kamu sedang jatuh cinta saja.
Jatuh cinta itu pertama kali melihat dia, langsung terasa ada sesuatu yang berbeda. Cara dia melihat, salah, maksudku menatap, memiliki efek yang berbeda. Efek yang luar biasa. Tatapan yang lebih dalam.
Kemudian ketika pulang, semuanya mulai terpikirkan dengan sendirinya. Mulai berpikir seribu langkah ke depan. Bagaimana bisa bertemu dia lagi dengan kesan ‘gak sengaja’, padahal semua rencana sudah disiapkan agar pertemuan ‘gak disengaja’ itu bisa terwujud. Hasilnya, seringkali orang yang jatuh cinta itu bolak-balik ke tempat pertama kali bertemu dia tanpa sengaja… berharap bertemu lagi, dengan sengaja, tapi tak terlihat sengaja. Tentunya sebelum melakukan itu semua, berdandan paling sempurna ada di to-do list pertama.
Saat untuk kedua kalinya bertemu, jantung itu terasa sudah tidak lagi berada di tempatnya, tapi degupannya terasa seperti tepat berada di depan gendang telinga. Begitu pula di pertemuan-pertemuan berikutnya. Kalau ada bunga di sekitar sana, pasti orang yang jatuh cinta akan mengambilnya kemudian mencopot sehelai demi sehelai kelopaknya dan berkata, “Samperin… Nggak… Samperin… Nggak…” Begitu terus. Dan tanpa sadar ketika kelopak bunga terakhir jatuh pada kata “samperin”, hitungannya diulang dari awal. Mencari pembenaran untuk menjadi pengecut yang menghamba pada malu, gengsi, dan takut.
Sampai bunga di sekitar habis, dan disadarkan oleh kemungkinan gak akan ketemu dia lagi, akhirnya seorang yang jatuh cinta akan dengan atau tanpa sadar menghampiri dia, lalu melemparkan senyum kecil dan mengulurkan tangan. Mungkin sapaan teramah yang pernah dilakukan, hanya untuk mendapatkan perhatian, atau sekadar kenalan.

Jika semuanya berhasil, keanehan orang yang jatuh cinta masih berlanjut. Orang yang jatuh cinta akan bertingkah aneh di dunia maya khususnya, mencari tau segala informasi tentang dia yang membuatnya jatuh. Google, Twitter, Facebook, Instagram, LINE, semuanya dia jelajahi, demi secercah informasi.
Apabila beruntung tidak mendapati ternyata dia sudah menjadi milik yang lain, keanehan demi keanehan bertambah. Kode-kode mulai dilemparkan, tak peduli dia akan membacanya atau tidak. Mungkin yang ada di dalam hatinya, “Namanya juga usaha.” Akan tetapi, jauh di benaknya, harapan selalu ada.

Berhasil mendapatkan kontaknya adalah sebagian pencapaian tertinggi bagi orang yang sedang jatuh cinta. Rasanya ingin sekali memasukkannya ke Curriculum Vitae. Lalu keanehan berikutnya, mengetik pesan, kemudian menghapusnya lagi, mengetiknya lagi, menghapusnya lagi, sampai akhirnya sebuah malam waktu itu berakhir dengan tidak ada satupun pesan yang dikirim.

Rasanya, kata demi kata, attitude demi attitude saat sedang jatuh cinta, haram hukumnya untuk ada sedikit saja cacat di dalamnya. Ketika ada sedikit saja kesalahan, rasanya ingin memaki diri sendiri, lalu meminta maaf padanya berkali-kali. Dan ketika berhasil mengobrol, lalu habislah topik pembicaraan, seringkali orang yang sedang jatuh cinta mengada-adakan topik pembicaraan yang gak penting sekalipun. Intinya, yang penting bisa ngobrol sama dia. Bahkan saat tidak ada bahan obrolan sekalipun kadang tetap memaksakan untuk menghubungi, akhirnya cuma diem-dieman. Menutup malam dengan tak ada sedikit pun keinginan untuk menghapus chat history bersamanya… untuk dibaca kemudian sewaktu-waktu.
Jatuh cinta memang begitu. Semua informasi tentangnya mengalahkan segala berita penting baik skala nasional, ataupun internasional. Karena bagi orang yang jatuh cinta, berita dengan skala hati –yaitu berita tentangnya– adalah yang terpenting.

Jatuh cinta adalah memaksakan diri untuk menyamakan hal demi hal yang menjadi kesukaannya. Semuanya dilakukan hanya mencoba untuk menjadi sempurna. Jatuh cinta juga adalah menebak-nebak setiap kata-kata yang dia keluarkan di akun media sosialnya, “Ini buatku, bukan? Kalau yang ini, buatku?”
Aku benci jatuh cinta. Semuanya membuatku jadi aneh. Anehnya, aku tetap saja jatuh cinta. Jadi, tak perlu merasa aneh, dan nikmati saja.
Karena bagi orang yang jatuh cinta, selama hal itu berhubungan dengan dia yang dipuja, semuanya jadi masuk akal.

Ini Tentang Komunikasi

Dari pertama masuk kuliah gue selalu bingung kenapa ada yang namanya fakultas atau jurusan komunikasi. Padahal kan komunikasi udah jadi kebiasaan manusia sehari-hari, tinggal ngomong doang.
 
Tapi ternyata setelah gue jalanin, ditambah pengalaman-pengalaman berurusan sama orang, ditambah lagi cerita-cerita orang tentang pengalamannya, sekadar ‘ngobrol’ sama manusia aja nggak semudah kedengerannya. Ternyata bener apa yang pernah gue bilang,
Segala urusan sama manusia selalu rumit.
Gue mulai dari tujuan sebenernya manusia melakukan komunikasi. Yang gue tau dan pernah gue baca, manusia berkomunikasi ya karena biar tujuannya tercapai. Gak ada orang yang mau berhubungan sama orang lain tapi dia jadi pihak yang rugi.
Tapi nggak sesederhana itu. Gue sering mendapati mereka yang berkomunikasi dan berhubungan sama orang lain, padahal dia gak dapet manfaat sama sekali. Misalnya, pas pacaran selalu dia yang ngalah, selalu dia yang nangis, selalu dia yang dicuekin. Tapi terus-terusan bertahan, dan bilang, “Terlanjur cinta.”
Orang yang kayak gitu berarti udah lupa sama tujuan awal dia pacaran. Pacaran kan pasti tujuan utamanya biar dapet kesenangan dan kenyamanan. Bukan berarti kalo gak dapet kesenengan dan kenyamanan bisa langsung mutusin, tapi di sini gunanya komunikasi.
Makanya gue suka heran sama yang pacaran terus teriak, “MIKIR AJA SENDIRI!” Pacaran itu kan berdua, jadi kalo ada masalah baiknya dipikirin sendiri dulu bener, tapi abis itu diomongin dan dipikir ulang baik-baik.

Sekarang yang jomblo. Banyak jomblo (atau mereka yang pengennya disebut ‘single’ biar kerenan dikit) merasa lagi suka sama peramal, atau berharap orang yang disuka itu jadi peramal. Maunya dimengerti tanpa harus ngomong sama sekali.
Bayangin, nyokap aja yang ngelahirin kamu, yang ngurus kamu dari kecil, belum tentu tau apa mau kamu tanpa kamu ngomong. Apalagi orang asing yang baru kenal beberapa tahun bahkan beberapa bulan doang. Sebenernya berharap dia ngerti apa yang kamu mau tanpa kamu ngomong adalah mempersulit diri sendiri. Mempersulit diri kamu karena dia belum tentu tau, belum lagi kalo gak sesuai harapan ternyata dia gak bisa sadar apa yang kamu mau, jadinya kecewa.
Contohnya, kamu suka sama orang tapi gak bilang, atau minimal gak usaha, tapi pengen memiliki. Itu sama aja kayak mimpi.
Contohnya buat yang pacaran, kamu kangen tapi pengennya dihubungin duluan. Terus kalo dia gak ngehubungin duluan, kamu nge-judge dia gak kangen kamu. Padahal kamu sendiri gak ngehubungin dia duluan. Berarti dia juga bisa nge-judge kamu gak kangen sama dia.
Nuntut orang tau apa yang dipengen tanpa ngomong itu mempersulit orang lain juga. Mungkin aja dia emang niatnya baik pengen nurutin apa yang kamu mau, tapi kamu gak pernah ngomong, akhirnya salah mulu. Berantem mulu.
Padahal masalah awalnya sederhana: kamu pengen sesuatu, tapi gak mau ngasih tau dia dan berharap dia tau sendiri.

Buat dua orang yang saling suka, komunikasi jadi kunci utamanya. Orang yang gak saling suka aja kalo komunikasinya sering lama-lama bisa jadi suka. Soalnya, orang gak akan mau komunikasi sering-sering kalo emang gak suka, lebih milih menghindar.
Gak usah yang LDR, yang deketan aja kalo komunikasinya jarang bisa pudar perasaan yang ada di hati. Sebenernya komunikasi adalah memelihara rasa biar stabil. Tapi bukan berarti harus komunikasi setiap saat. Gue suka heran sama orang yang pacaran tapi harus kabar-kabaran setiap saat. Itu namanya overdosis kabar.
Yang namanya berlebihan itu gak baik. Kalo udah overdosis kabar gitu, bisa ketergantungan. Gak ada kabar dia bentar langsung uring-uringan, ujung-ujungnya ngambek.
Pacaran yang sehat adalah yang dosis komunikasinya aman, kegiatan masing-masing juga tetep jalan.
Masing-masing orang kan punya kegiatan sendiri. Ada yang pengen ngerjain tugas, kerjaan, hobi, nonton TV, makan, atau sekadar tiduran. Malahan ada kalanya pengen yang namanya ‘me time’ alias waktu yang bener-bener diabisin buat manjain diri aja.
Kembali lagi ke komunikasi. Kalo udah diobrolin, pasti gak akan salah paham. Misalnya kalo abis Isya biasanya ngerjain tugas abis itu tiduran setengah jam, baru abis itu kabar-kabaran lagi. Kayak gitu lebih asyik. Jadi dibiarin muncul dulu kangennya, baru nanti ngobrol lagi.
Udah gak zaman pacaran mesti ngabarin 48×24 jam.

Intinya sih berurusan sama manusia, gak munafik, harus mendatangkan manfaat buat diri sendiri. Syukur-syukur kalo bisa ngasih manfaat buat orang lain juga. Buat apa punya pacar tapi gak berasa punya pacar?
Ya pokoknya masalahnya apa pun bisa diselesaikan dengan komunikasi ‘lah. Bicara dan berpikir bersama, maka masalah akan sirna.
Kedewasaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana mereka lari dari masalah… yang sudah dia selesaikan terlebih dahulu dengan komunikasi. Bukan yang mengada-ada masalah karena nggak mau bilang apa maunya diri.
Yang terakhir, kenapa manusia untuk berkomunikasi sama orang lain begitu susah? Karena banyak yang berkomunikasi sama diri sendiri aja masih belum bisa.
Memahami diri sendiri itu rumit, makanya manusia butuh orang lain untuk membantu mengerti.

Ya pokoknya semoga setelah baca omongan panjang lebar gue yang ngelantur ini, kita sama-sama belajar dewasa. Malu kalo muka tua, tapi jiwanya gak dewasa.

Bertemu Orang Yang Tepat

Kadang kita nggak sadar sudah menunggu selama apa untuk bertemu dengan orang yang tepat.


Gue nggak pernah mengerti gimana seseorang bisa jatuh cinta. Hal-hal seperti itu bisa semudah berlempar senyum lalu melayangkan jabatan tangan kemudian bertukar nama. Ada juga yang nggak berdaya membendung cinta yang berhasil merangsek masuk ke dinding-dinding hati akibat kebiasaan-kebiasaan yang tidak sengaja dilakukan bersama. Bahkan ada yang bersusah payah untuk jatuh cinta dengan menunggu… entah berapa lama akhirnya masing-masing dari diri mereka menyadari kalau itu cinta.
Tapi ada satu kesimpulan yang bisa gue ambil dari beberapa hal yang gue bingungkan tadi. Kesemuanya membutuhkan kesempatan. Kesempatan butuh keadaan. Sayangnya, banyak pula cinta yang harus mati karena keadaan, yang sering menyamar dalam bentuk ‘kenyataan’, ‘keyakinan’, atau sekadar ‘pertemanan’.
Mungkin sama banyaknya dengan cinta yang harus mati karena keadaan, banyak juga cinta yang justru hidup karena keadaan. Jadi rasanya terlalu picik jika orang tak memberikan kesempatan untuk cinta yang baru saja lahir dan masih tumbuh. Membunuhnya dengan kata-kata “maaf, tapi menurut aku ini kecepetan” hanyalah akal-akalan mereka yang tak punya perasaan yang sama, hanya supaya nggak terlalu kelihatan berdosa.
Tapi percayalah, orang yang tepat itu akan datang.
Kadang sepasang orang membutuhkan terlalu lama waktu untuk menyadari bahwa sebenarnya yang mereka butuhkan sudah ada di depan mata. Hanya saja, mereka terlalu terfokus untuk mengejar yang diinginkan. Sama halnya seperti seorang anak. Seorang anak menyukai banyak hal. Mereka suka berlari, mereka suka melompat, bahkan mereka suka terbang. Itu semua yang mereka inginkan.
Namun ketika terantuk, terjatuh, bahkan terjerembab, siapa yang mereka butuhkan? Ibu, atau minimal sebuah pelukan. Anak-anak harus merasakan yang namanya terjatuh dulu, harus merasakan yang namanya luka dan menangis untuk bisa merasakan bagaimana hangatnya sebuah pelukan.
Begitu juga yang terjadi pada kebanyakan kita. Terlalu senang mengejar-ngejar yang diinginkan, sampai dibutakan mana yang sebenarnya dibutuhkan. Tapi itu tidaklah salah. Karena kalau nggak begitu, kita nggak akan merasakan luka, dan kita nggak tau sebagaimana menyembuhkannya ‘obat’. Kalau kita nggak pernah salah, kita nggak akan bisa bertemu orang yang tepat.
Padahal jika dilihat lebih tulus, semua yang dibutuhkan nggak begitu rumit. Kita pasti ingin bersama mereka yang selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi diri kita sendiri. Kita pasti ingin menghabiskan hari dengan orang yang cukup dengan menggenggam tangannya saja, kita merasa digdaya menghadapi dunia.


Kita pasti ingin hidup dengan seseorang yang cukup dengan menatap matanya saja sudah merasa seperti di rumah.


Kita hanya ingin terlelap di pelukan seseorang bermata teduh, yang melenyapkan segala jenuh, menggantikan semua peluh.


Pada akhirnya, kita hanya ingin terjatuh pada mereka yang meski sama penuh luka, tapi dipertemukan untuk saling menyembuhkan.

Bersama Sampai Renta

Aku seorang perencana. Itu tugas dan naluriku. Kamu, navigator andal paling manis yang siaga menyadarkan bahwa semesta tak melulu sesuai dugaan.
Aku menganggap diri ‘the man with the plan’, terlalu pemikir. Tapi kamu selalu mengingatkanku semuanya lebih indah mengalir.

Menunggu yang tidak pasti itu melelahkan. Tapi menghadapi dunia yang tidak menentu, denganmu aku ingin terkejut bersama.

Aku terlalu takut kehilangan. Namun kamu meyakinkan, bahwa yang bersama kita saat ini adalah yang dianugerahkan.
Aku bersikeras masa depan bisa direncanakan. Kamu mengingatkanku takdir tak bisa dielakkan.
Kamu bilang, waktu paling berharga adalah saat ini. Maka bagiku, kamulah yang paling berharga, karena masih bersamaku sampai kini.
Katamu, masa depan tak pernah pasti. Tapi yang pasti aku hanya ingin memastikanmu menjadi masa depanku. Itu pasti.
Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa mencinta itu berarti juga mengingatkan. Tetaplah saling menggenggam tangan. Dan sekali lagi, mari kita terkejut berdua, menghadapi dunia yang tidak menentu akhirnya… sampai kita renta.

Minggu, 19 Mei 2013

Lucu sih, deket.. tapi gue sih gabisa nahan perasaan gue sendiri ke doi. temen ya itu doang. gue sih sabar aja jadi cewe karena pertemanan kayak gini lebih nyaman. daripada balikan sama mantan. apa banget. cuman ini yg bisa gue tulis disini. semoga lo sadar :)

Senin, 13 Mei 2013

Long Distance Relationship

Soal hati, emang nggak ada yang bisa nebak. Jatuh cinta kepada siapa, orang itu dekat ataupun jauh, semuanya random. Kita sebagai manusia, nggak bisa bikin plot hidup sendiri, kita cuma bisa berusaha, takdir sih ya Tuhan udah nentuin. 

Beruntunglah kalian yang jatuh cintanya nggak jauh-jauh, entah itu temen sendiri, tetangga, atau temen sebangku. Soalnya diluar sana banyak pasangan yang rela mempertaruhkan kesetiannya kepada jarak dan waktu. 

Ya.. mereka jarak jauh, atau kita kenal dengan LDR.

Penikmat cinta kadang nggak peduli sama jarak dan waktu yang membuat mereka terpisah. Banyak tantangan yang disediain "jarak dan waktu" buat mereka yang ngejalanin hubungan jarah jauh, LDR itu. Jarak yang jauh, waktu yang lama, menghalangi keduanya untuk bertemu. 

Rindu campur aduk dengan gelisah, rindu jadi sering berantem sama jarak.
Kasihan.

Kangen cuma bisa ditahan, rindu cuma bisa dikatakan. 

Mereka yang LDR, cuma bisa pasrah sama keadaan ketika salah satu dari mereka, atau bahkan keduanya, sama-sama kangennya. Kangen mereka cuma bisa ditahan, dikatakan lewat mulut, diketik di sms/bbm, udah itu aja. Sampai waktu yang menjawab kapan kangen itu bisa bertemu dengan seseorang yang dia inginkan. Tiap malem nggak bisa tidur, kedip-kedip, ngangenin dia, tapi ya tetep.. dia jauh.

Apa rasanya kangen yang cuma bisa ditahan? 

Perih, dan nggak tau harus ngapain. 

Apa rasanya LDR tanpa saling percaya?

Bicara soal LDR, kepercayaan jadi tumpuannya. Nggak saling percaya ya percuma, dikit-dikit curiga. Si pacar nggak ngabarin dikit, ngambek. Si pacar bales sms/bbmnya lama, ngambek. Si pacar nggak ngangkat telfonnya, ngambek. Ngambek juga ada aturannya kan, nggak segalanya diselesaiin sama ngambek. Gitu mau awet..

Setia itu pondasi yang bikin LDR tetep kuat.

Nah, ini. Setia! Soal setia, itu relatif. Tergantung pribadi masing-masing. Setia itu cuma ada 2 tipe: emang bener-bener setia dan setia cuma di awal jadian. Gue nggak ngerti pacar kalian termasuk yang mana. Menurut survei yang ada, setia buat pasangan LDR itu nggak gampang, banyak godaannya. Gimana nggak gampang, pacar lagi jauh banget disana, nggak bisa liat kita sebenernya ngapain. Bisa aja bilang lagi keluar sama temen, eh ternyata keluar sama gebetan. Bisa aja bilang lagi di kamar, eh ternyata lagi makan bareng gebetan. Banyak sih kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi, gue nggak tega nyebutin semuanya. Hmph..

Itu dulu deh ya inti dalam hubungan jarak jauh/LDR, seperti apa dan gimana. Semuanya balik lagi ke kalian ngadepinnya gimana. Konsisten buat bertahan atau enggak, positif thinking terus atau enggak, setia atau mendua, itu semua pilihan. :')

Yang Kutau Itu Cinta

Kamu…

Seseorang biasa yang menjadikan keseharianku luar biasa

Kamu datang dan hadir di saat aku takut untuk merasakan apa itu jatuh cinta

Karena sebelumnya aku lahir dalam sepi, sendiri, dan nggak tau apa itu cinta

Dan  adanya kamu, mengajarkan aku berbagai hal.


Kamu mengajarkan aku tentang takut. Takut kehilangan seseorang yang benar benar aku sayang

Dan kamu juga mengajarkan aku tentang bahagia. Bahagia dengan meniadakan ketidakpercayaan di antara kita

Tapi… Jika suatu saat nanti harus ada kata berpisah, aku cuma pengen kamu tau, rinduku cuma satu, dan itu punya kamu.

Jika suatu saat nanti harus ada kata “kita gak bisa sama sama lagi”, aku cuma pengen kamu inget, kita pernah sama sama saling merasakan apa itu bahagia.

Kita juga pernah sama sama saling percaya meniadakan kata kata mereka yang pernah berusaha menjauhkan kita

Dan… Jika suatu saat nanti kita benar benar harus berpisah, tetap yakin kita gak pernah benar benar merasa sendiri, sepi dan sunyi.

Karena kita saling mengajari arti cinta.

Saling menguatkan, kalau kita harus berdamai dengan rasa takut
Takut kehilangan, atau takut untuk jatuh cinta lagi.